Sabtu, 04 Februari 2017

CAPUT SUKSEDANEUM DAN CHEPAL HEMATOMA



TINJAUAN TEORI

A.  Caput Suksedaneum
1.      Pengertian
Caput suksedaneum merupakan edema subcutis akibat penekanan jalan lahir pada persalinan letak kepala, berebentuk benjolan yang segera tampak setelah bayi lahir, tak berbatas tegas dan melewati batas sutura. Kelainan ini biasanya ditemukan pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi edema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput sucsedaneum tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang  setelah 2-5 hari. Kadang-kadang caput suksedaneum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu. (Ai yeyeh Rukiyah, 2010 hal: 164)
                  
2.      Etiologi
1)   Partus lama
2)   Partus menggunakan forsep
3)   Ketuban sudah pecah
4)   His cukup kuat, makin kuat his makin besar kaput suksedaneun
5)   Anak hidup; tidak terjadi pada anak yang mati
6)   Selalu terjadi pada bagian terendah kepala
(Sarwono, 2006 hal: 578 dan Firman F. Wirakusumah, 2011 hal: 150)

3.      Tanda dan gejala
Tonjolan edema, yang terlihat saat bayi lahir, memanjang sesuai garis sutura tulang tengkorak dan lenyap secara spontan dalam tiga sampai empat hari. (Bobak dkk, 2005)

4.      Patofisiologi dan Patogenesis
a.    Patofisiologi
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedaneum yang besar dibagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Kaput dapat hampir mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap. Dokter yang kurang berpengalaman dapat melakukan upaya secara prematur dan tidak bijak untuk melakukan ekstraksi forseps. Kaput suksedaneum menyebar melewati garis tengah dan sutura serta berhubungan dengan moulding tulang kepala. (Sarwono, 2010 hal: 578)
b.    Patogenesis
Edema kulit kepala yang terjadi karena tekanan jalan lahir terhadap kepala anak menyebabkan vena tertutup, tekanan dalam kapiler vena meninggi, sehingga cairan masuk ke dalam jaringan longgar di bawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah. (Firman F. Wirakusumah, 2011 hal: 150)

5.      Komplikasi
a.    Infeksi
b.    Ikterus
c.    Anemia
(Ai yeyeh Rukiyah, 2010 hal: 164)

6.      Penatalaksanaan medis
Tidak dibutuhkan pengobatan, tetapi orang tua harus diingatkan bahwa kondisi tersebut adalah relatif umum dan sementara.
(Sarwono, 2009 hal: 723)

7.       Asuhan Kebidanan Pada Kaput Suksedaneum
Bayi dirawat seperti pada perawatan bayi normal,observasi keadaan umum, pemberian ASI yang adekuat, cegah terjadinya infeksi dan berikan penkes kepada orang tua agar tetap tenang dan tidak cemas dalam menghadapi bayinya, yaitu; beritahu ibu tentang caput suksadenium pda bayi baru lahir yaitu terjadi akibat pembengkakan kulit kepala yang memanjang di garis tengah berisi cairan pada kepala bayi dan ibu mengerti terlihat dari ibu yang sudah agak tenang. Beritahu ibu untuk menggendong bayinya karena dapat menyebabkan prosespenyembuhan yang cepat, yang biasanya hilang pada hari ke 2-5 dan ibu mau melaksanakannya. Beritahu ibu tentang ASI ekslusif yaitu memberikan ASI segera setelah lahir sampai usia 6 bulan pertama dengan jarak 2-3 jam perhari dan ibu melaksanakannya.
Beritahu ibu dan keluarga untuk merujuk bayi ke pelayanan kesehatan yang memadai apabila benjolan tidak hilang pada hari ke 2-5 segera menghubungi bidan dan ibu mengerti terlihat ibu yang mampu mengulangi perkataan bidan. (Ai yeyeh Rukiyah, 2010 hal: 168)

B.  Sepal Hematoma
1.      Pengertian
Sefal Hematoma adalah pengumpulan darah di atas tulang tengkorak yang disebabkan oleh perdarahan subperiosteal dan berbatas tegas pada tulang dan tidak melampaui sutura-sutura sekitarnya, sering ditemukan pada temporal dan parietal. Kelainan dapat terjadi pada persalinan biasa, tetapi lebih sering pada persalinan yang diakhiri dengan alat, seperti ekstraksi cunam atau vakum.
  (Ai yeyeh rukiyah,2010 Hal:169)
                   
2.      Etiologi
1)   Persalinan normal
2)   Partus lama
3)   Partus menggunakan forseps atau vakum
(Sarwono,2009)

3.      Tanda dan gejala
Sefal hematoma tidak muncul pada saat lahir, tapi pembengkakan timbul setelah 12 jam, bertambah besar selama beberapa hari selanjutnya dan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Pembengkakan yang terjadi memiliki batas tegas, keras, tidak melesak saat ditekan, tidak melewati sutura dan tidak berubah.
(Diane M. Fraser, 2011 hal: 806)   

4.      Patofisiologis dan patogenesis
a.    Patofisiologis
Perdarahan dapat terjadi pada kelahiran spontan akibat penekanan pada tulang panggul ibu. Kelahiran dengan forsep rendah dan rotasi forsep yang sulit juga dapat mengakibatkan perdarahan. (Bobak dkk,2005 hal: 372)
b.    Patogenesis
Tekanan jalan lahir yang telalu lama pada kepala saat persalinan, moulage terlalu keras, partus dengan tindakan seperti forcep, vacum ekstraksi.
(Ai yeyeh Rukiyah, 2010 hal: 170)

5.      Komplikasi
Perdarahan yang terjadi dapat menyebabkan anemia dan hipotensi. Namun, hal ini yang terjadi. Penyembuhan hematoma merupakan predisposisi terhadap terjadinya hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia terjadi akibat penghancuran pada sel darah merah pada hematoma.
Hiperbilirubinemia karena sefal hematoma terjadi lebih lambat dari pada hiperbilirubinemia fisiologi. Kadang-kadang sefal hematoma disertai pula dengan fraktur tulang tengkorak di bawahnya (5 - 20 % kasus) atau perdarahan intrakranial. Sefal hematoma jarang menjadi fokus infeksi  yang menyebabkan meningitis atau osteomielitis. Resolusi sefal hematoma terjadi dalam beberapa minggu dan umumnya disertai klarifikasi. (Sarwono, 2009 hal: 722)

6.      Penatalaksanaan medis
Tidak ada penanganan yang yang perlu dilakukan dan pembengkakan berkurang saat darah direabsorbsi. Pemecahan eritrosit dalam darah yang merembes dapat menyebabkan hiperbilirubinemia.
(Diane M. Fraser, 2011 hal: 806)

7.      Asuhan Kebidanan Pada Sefal Hematoma
Bidan memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua agar tetap tenang dan tidak cemas dalam menghadapi bayinya, yaitu; beritahu ibu tentang chepal hematoma pada bayi baru lahir yaitu terjadi akibat kerusakan jaringan periosteum karena tarikan atau tekanan jalan lahir ditandai dengan adanya benjolan dan ibu mengerti terlihat dari ibu yang yang sudah tenang.
Beritahu ibu untuk tidak menggendong bayi karena dapat menyebabkan proses penyembuhan yang lama, yang biasanya hilang pada hari ke 1-3 bulan dan ibu mau melaksanakanya. Beritahu ibu tentang ASI eksklusif yaitu memberikan ASI segera setelah lahir sampai usia 6 bulan pertama dengan jarak 2-3 jam perhari dan ibu melaksanakanya. Beritahu ibu dan keluarga untuk merujuk bayi kepelayanan kesehatan yang memadai apabila benjolan tidak hilang pada hari ke 1-3 bulan segera hubungi bidan dan ibu mengerti terlihat ibu yang mampu mengulang perkataan bidan. (Ai yeyeh Rukiyah, 2010 hal: 173)

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC
F. Wirakusuma, Firman . 2011. Obstetri Fisiologi. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono , 2010 . Ilmu Kebidanan . Jakarta : PT. Bina Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono , 2009 . Ilmu Kebidanan . Jakarta : PT. Bina Pustaka
Cunningham, F. Garry , dkk , 2006 . Obstetri William . Jakarta : EGC
M. Diana, Fraser ,  2011 . Buku Ajar Kebidanan . Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar