Sabtu, 04 Februari 2017

KONSEP DASAR KELUARGA



BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Dasar Keluarga
1.      Defisnisi keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas Kepala Keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI dalam Ali, 2006; h: 4).
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dam materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya (BKKBN dalam sudiharto’ 2007; h:5).
2.      Struktur keluarga
Struktur keluarga menurut effendy (1998; h: 33) terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a.         Patrilineal yaitu keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
b.        Matrilineal yaitu keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c.         Matrilokal yaitu sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu.
d.        Patrilokal yaitu sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e.         Keluarga kawinan yaitu hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
 3.      Ciri – ciri keluarga
a.       Ciri keluarga
1)                Diikat dalam suatu tali perkawinan.
2)                Ada hubungan darah.
3)                Ada ikatan batin.
4)                Ada tanggung jawab masing-masing anggotnya.
5)                Ada pengambilan keputusan .
6)                Kerjasama diantara anggota keluarga .
7)                Komunikasi interaksi antar anggota keluarga.
8)                Tinggal dalam satu rumah.
b.      Ciri keluarga Indonesia
1)       Suami sebagai pengambil keputusan
2)       Merupakan suatu kesatuan yang utuh
3)       Berbentuk monogram
4)       Bertanggung jawab
5)       Pengambil keputusan
6)       Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
7)       Ikatan kekeluargaan sangat erat
8)       Mempunyai semangat gotong-royong
4.      Bentuk – bentuk keluarga
a.  TRADISIONAL :
1)   The nuclear family (keluarga inti)
     Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
2)   The dyad family
     Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah.
3)   Keluarga usila
     Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri.
 4)   The childless family
     Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
5)   The extended family (keluarga luas/besar)
     Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll).
6)   The single-parent family (keluarga duda/janda)
     Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
7)   Commuter family
     Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end)
8)   Multigenerational family
     Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah
9)   Kin-network family
     Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
10)    Blended family
     Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
11)    The single adult living alone / single-adult family
     Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati.

b.    NON-TRADISIONAL :
1)   The unmarried teenage mother
     Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2)   The stepparent family
     Keluarga dengan orangtua tiri.
3)   Commune family
     Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama.
4)   The nonmarital heterosexual cohabiting family
     Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
5)   Gay and lesbian families
     Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners).
6)   Cohabitating couple
     Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7)   Group-marriage family
     Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
8)    Group network family
     Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya.
 9)    Foster family
     Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
10)    Homeless family
     Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
11)    Gang
     Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.
5.    Peran Fungsi Keluarga
Peranan keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
a.    Peranan ayah :
Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
b.    Peranan ibu :
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c.    Peranan anak :
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
Fungsi Keluarga
a.       Fungsi biologis :
1)      Meneruskan keturunan
2)      Memelihara dan membesarkan anak
3)      Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4)      Memelihara dan merawat anggota keluarga
b.      Fungsi Psikologis :
1)      Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2)      Memberikan perhatian di antara anggota keluarga
3)      Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4)      Memberikan identitas keluarga
c.       Fungsi sosialisasi :
1)      Membina sosialisasi pada anak
2)      Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
3)      perkembangan anak
4)      Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
d.      Fungsi ekonomi :
1)      Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2)      Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
3)      Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa yang akan datang (pendidikan, jaminan hari tua).
e.       Fungsi pendidikan :
1)      Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2)      Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
3)      Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
6.       Tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
a.       Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b.      Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c.       Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
d.      Sosialisasi antar anggota keluarga.
e.       Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f.       Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
g.      Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
h.      Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
7.       Tahap – Tahap Kehidupan Keluarga
Tahapan kehidupan keluarga menurut Duvall dalam Effendy (1998; h: 38) adalah sebagai berikut:
a.    Tahap pembentukan keluarga
Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan membentuk rumah tangga.
b.    Tahap menjelang kelahiran anak
Tugas keluarga yang utama adalah mendapat keturunan sebagai generasi penerus, melahirkan anak merupakan kebanggaan bagi keluarga yang merupakan saat-saat yang sangat dinantikan.
c.    Tahap menghadapi bayi
Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak, karena pada tahap ini bagi kehidupannya sangat tergantung kepada kedua orangtuanya. Dan kondisinya masih sangat lemah.
 d.   Tahap menghadapi anak pra sekolah
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya, sudah mulai bergaul dengan teman sebayanya, tetapi sangat rawan dalam masalah kesehatan.karena tidak mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih. Dan fase ini anak sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai menanamkan budaya tersebut.
e.    Tahap menghadapi anak sekolah
Dalam tahap ini tugas keluarga adalah bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan masa depannya. Membiasakan anak belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas anak sekolah dan meningkatkan pengetahuan umum anak.
f.     Tahap menghadapi anak remaja
Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya, oleh karena itu suri tauladan dari kedua orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan pengertian antara kedua orang tua dengan anak perlu dipelihara dan dikembangkan.
g.    Tahap melepaskan anak ke masyarakat
Setelah melalui tahap remaja dan anak telah menyelesaikan pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke masyarakat dalam memulai kehidupan yang sesungguhnya, dalam tahap ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.
h.    Tahap berdua kembali
Setelah anak besar dan menempuh kehidupan sendiri, tinggallah suami dan istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi dan bila tidak menerima kenyataan akan menimbulkan depresi dan stres.
i.      Tahap masa tua
Tahap ini masuk ke tahap lansia dan kedua orang tua mempersiapkan diri untuk meninggal dunia yang fana ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar