Sabtu, 04 Februari 2017

MAKALAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

TINJAUAN TEORI
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN






A.  Pertumbuhan dan Perkembangan
1.   Pertumbuhan dan Perkembangan
a.   Pengertian pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah sel dan bertambahnya ukuran sel alat tubuh, yang menyebabkan bertambah besarnya tubuh secara keseluruhan (Sastroasmoro, 2007; h. 3).
Perkembangan  adalah pola perubahan yang bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui kematangan dan belajar (Hidayat, 2005; h. 15-17).
b.  Pola-pola pertumbuhan dan perkembangan
Ada dua pola pada pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:
1)  Pola cephalocaudal
Pola cephalocaudal merupakan rangkaian dimana pertumbuhan tercepat selalu terjadi di atas-yaitu kepala. Pertumbuhan fisik dalam ukuran, berat badan, dan perbedaan ciri fisik secara bertahap bekerja dari atas ke bawah-contohnya, dari leher ke bahu, ke batang bagian tubuh bagian tengah, dan seterusnya.
Perkembangan sensorik dan motorik juga biasanya berproses menurut prinsip cephalocaudal. Sebagai contoh, bayi melihat objek sebelum mereka dapat merangkak atau berjalan.
2)  Pola proximodistal
Pola proximodistal merupakan rangkaian pertumbuhan yang dimulai dari pusat tubuh dan bergerak ke arah tangan dan kaki. Contohnya, kendali otot tubuh dan lengan matang sebelum kendali tangan dan jari.
3)  Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola ini dikenal dengan nama pola mass to specific atau to complex, pola ini dapat dimulai dengan menggerakan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks (khusus). Seperti, melambaikan tangan kemudian baru memainkan jarinya atau menggerakan jarinya atau menggerakan lengan atas, bawah telapak tangan sebelum menggerakan jari tangan, akan menggerakan badan atau tubuhnya sebelum mempergunakan kedua tungkainya untuk menyangga, melangkahkan dan atau mampu berjalan.
4)  Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pada pola ini tahapan perkembangan dibagi menjadi lima bagian yang tentunya memiliki prinsip atau ciri khusus dalam setiap perkembangan, diantaranya:
a)  Masa pralahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan jaringan tubuh.
b)  Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan diluar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan.
c)  Masa bayi terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya dan memiliki kemampuan untuk melindungi dan menghindari dari hal yang mengancam dirinya.
d)  Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan cara penyesuaian dengan lingkungan dalam hal ini keluarga dan teman sebaya.
e)  Masa remaja akan terjadi perubahan ke arah dewasa sehingga kematangan pada tanda-tanda pubertas.
5)  Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan (belajar)
Proses kematangan dan belajar pada pola ini selalu mempengaruhi perubahan dalam perkembangan anak, antara kematangan dan proses belajar terjadi interaksi yang kuat dalam mempengaruhi perkembangan anak. Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses kematangan dan kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui rangsangan yang tepat. Masa itulah dikatakan sebagai masa kritis yang harus dirangsang agar mengalami pencaaian perkembangan selanjutnya, melalui proses belajar.
c.   Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
1)  Faktor genetik/ faktor herediter (faktor Heredokonstitusional)
Faktor genetika atau herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh-kembang anak. Faktor ini ditandai dengan intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Yang termasuk faktor genetik, antara lain:
a)  Faktor bawaan yang normal atau patologis, seperti kelainan kromosom (Sindrom Down), kelainan kranio-faisal (celah bibir).
b)  Jenis kelamin
(1)  Pada umur tertentu laki-laki dan perempuan sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani, dan lain-lain.
(2)  Anak dengan jenis kelamin laki-laki pertumbuhanya cenderung lebih cepat daripada anak perempuan.
(3)  Namun dari segi kedewasaan, perempuan menjadi dewasa dini, yaitu mulai adolesensi (remaja) pada umur 10 tahun, sedangkan laki-laki mulai umur 12 tahun.
c)  Keluarga: banyak dijumpai dalam satu keluarga ada yang tinggi dan ada yang pendek.
d)  Ras
(1)  Beberapa ahli antropologi menyatakan ras kuning cenderung lebih pendek dibanding dengan ras kulit putih.
(2)  Suku Asmal di Papua berkulit hitam, sementara itu suku Dayak Kalimantan berkulit putih.
e)  Bangsa: Bangsa Asia cenderung bertubuh pendek dan kecil, sementara itu Bangsa Amerika cenderung tinggi dan besar.
f)   Umur, kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa Fetus, masa bayi dan masa adolesensi (remaja).
2)  Faktor lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang telah dimiliki oleh anak. Lingkungan yang baik akan memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan sebaik-baiknya menurut norma-norma tertentu. Sementara itu, lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh-kembang anak.
Faktor lingkungan dapat dibagi menjadi faktor lingkungan pranatal (sebelum lahir) dan post-natal (sesudah lahir).
a)  Lingkungan pranatal (sebelum lahir)
Lingkungan pranatal adalah lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih didalam kandungan. Lingkungan intrauterin mempunyai pengaruh yang sangat besar dimana selaput amnion dan amnion melindungi fetus/janin (bakal bayi) dari lingkungan luar.
b)  Ibu kurang gizi pada waktu hamil
Kekurangan gizi pada masa kehamilan pada ibu akan berakibat buruk terhadap janin, seperti terjadinya anomali dan bahkan abortus, prematuritas, lahir mati, kematian perinatal, berat badan lahir rendah, penurunan kecerdasan anak, gangguan pertumbuhan anak, dan lain-lain.
c)  Infeksi
Infeksi intrauterin, seperti TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex) sering menyebabkan cacat bawaan pada bayi yang dilahirkan. Hal ini dapat di uraikan lebih lanjut sebagai berikut: infeksi (trimester I: Rubela, trimester II dan III: Toxoplasmosis, histoplamosis, dan sifilis). Infeksi yang diderita ibu hamil dapat mengakibatkan kelainan pada fetus, seperti bisu-tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan bawaan lainya.
d)  Imunitas (eritoblastosis fetalis, kern-icterus)
(1)    Keadaan ini dikarenakan perbedaan golongan darah antara fetus dan ibu, sehingga ibu akan membentuk antibodi terhadap sel darah merah bayi yang akan masuk ke peredaran darah bayi melalui plasenta. Hal tersebut mengakibatkan hemolisis pada peredaran darah bayi. Akibat dari penghancran sel darah merah bayi adalah anemia dan hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan otak.
(2)    Rhesus ABO inkompatibilitas sering menyebabkan abortus, kern ikterus, hidros fetalis, atau lahir mati.
e)  Gangguan endokrin pada ibu
Hormon-hormon yang berperan dalam pertumbuhan janin antara lain hormon somatotropin (hormon pertumbuhan), hormon plasenta, hormon tiroid, insulin, dan lain-lain.
(1)    Hormon somatotropin (hormon pertumbuhan/Growth Hormone) disekresikan oleh kelenjar hipofise janin sekitar minggu ke sembilan. Gangguan pada hormon ini dapat menimbulkan kretinisme atau kekerdilan.
(2)    Defisiensi hormon tiroid dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan retardasi mental pada anak.
(3)    Ibu hamil dengan diabetes melitus karena kekurangan insulin, dimana tidak mendapatkan pengobatan pada saat kehamilan trimester pertama, dapat melahirkan anak dengan cacat bawaan atau lahir dengan cacat bawaan atau lahir dengan berat badan bayi besar.
(4)    Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes melitus (DM) sering ditemukan kelainan seperti makrosomia, kardiomegali, dan hiperplasia adrenal. Hiperplasia pulau Langerhans akan mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan pada anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang usianya relatif tua mempunyai resiko menderita kelainan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang dilahirkan oleh ibu yang relatif lebih muda. Hal tersebut dikarenakan oleh kelainan-kelainan endokrin yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
f)   Mekanis (seperti pita amniotik, ektopia, posisi fetus yang abnormal, trauma, oligohidramnion)
(1)    Trauma dan cairan ketuban kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dikandungnya.
(2)    Faktor mekanis seperti posisi tubuh fetus yang abnormal dan oligohidramnion dapat menyebabkan kelainan kongenital, seperti clubfoot, mikrognatia, dan kaki bengkok.
g)  Toksin/ zat kimia
(1)    Obat-obatan tertentu seperti thalidomide dan obat anti kanker dapat menyebabkan kelainan bawaan pada janin yang dalam kandungan terutama apabila diminum ibu dengan kehamilan pada masa organogenesis, yaitu masa pembentukan organ-organ, yang merupakan masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen.
(2)    Obat-obatan tertentu dapat menimbulkan kelainan seperti palatoskisis, hidrosefalus, distosia kranial.
h)  Radiasi (sinar rontgen, radium, dan lain-lain)
(1)    Radiasi pada janin terutama pada kehamilan trimester pertama dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, dan cacat bawaan lainya.
(2)    Pemakaian radium dan sinar rontgen yang tidak mengikuti aturan dapat menyebabkan kelainan pada fetus. Contoh, akibat dari radiasi bom atom di Hiroshima pada fetus adalah mikrosefali, retardasi mental, kelainan mata dan jantung.
i)    Stres
Stres yang berlebihan pada ibu hamil dapat mempengaruhi tumbuh-kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan jiwa, dan lain-lain.
j)    Janin kekurangan oksigen
(1)    Penurunan oksigenisasi janin yang melalui plasenta atau tali pusat yang terganggu dapat menyebabkan berat badan lahir rendah.
(2)    Anoksia embrio (gangguan fungsi plasenta) menyebabkan pertumbuhan bayi terganggu.
k)  Lingkungan Post-natal (sesudah lahir)
Faktor lingkungan post-natal merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh-kembang anak setelah lahir, antar lain:
(1)    Pengaruh budaya lingkungan, yaitu:
(a)  Budaya keluarga atau masyarakat sangat mempengaruhi perilaku hidup sehat.
(b)    Ibu hamil dilarang makan–makanan tertentu padahal zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan janin.
(c)    Keyakinan untuk melahirkan dengan petugas kesehatan (bidan) atau tetap memilih dukun beranak.
(d)    Anak yang dibesarkan di lingkungan petani di desa akan mempunyai pola kebiasaan atau norma perilaku yang berbeda dengan anak yang dibesarkan di kota besar.
(2)    Status sosial dan ekonomi keluarga
(a)    Keluarga dengan sosial ekonomi kurang, biasanya terdapat keterbatasan dalam pemberian makanan bergizi, pendidikan dan pemenuhan kebutuhan primer lainya untuk anak. Keluarga sulit memfasilitasi anak untuk capai tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal sesuai dengan tahapan usianya. Maka seringkali anak dari keluarga yang kurang mampu umumnya lebih kecil dari mereka yang lebih tinggi sosial ekonominya.
(b)    Menurut Cameron & Hovander (1983), rata-rata berat bayi lahir didasarkan status sosial ekonomi keluarga, adalah sebagai berikut:

Golongan sosial-ekonomi
Berat badan bayi (gram/ gr)
Atas
3247
Menengah atas
2945
Menengah bawah
2797
bawah
2578
Tabel 1 data rata-rata berat bayi didasarkan sosial ekonomi
 keluarga
Dari rata-rata berat bayi lahir di atas, jelas terlihat bahwa ukuran bayi yang lahir dari keluarga dengan keadaan sosial-ekonomi yang kurang, berat badan bayi lebih rendah dibandingkan dengan berat bayi dari keluarga dengan sosial-ekonomi yang cukup.
(3)    Nutrisi (asupan makanan kualitatif dan kuantitatif)
Zat nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak adalah protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air. Zat-zat tersebut merupakan bahan pembangun tubuh. Pada masa prenatal, bayi maupun balita, anak akan membutuhkan kalori dan protein lebih banyak, faktor malnutrisi (kekurangan gizi) atau kurang adekuatnya zat gizi sangat berpengaruh dimana hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terjadi terutama disebabkan oleh kekurangan atau defisiensi protein dan vitamin B. Malnutrisi secara primernya terjadi karena kekurangan makan, secara sekunder terjadi karena penyakit yang kronis, penyakit darah, dan lain-lain. Dengan kata lain, penyebab status nutrisi kurang pada anak adalah:
(a)    Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik kuantitas maupun kualitas.
(b)    Hiperaktivitas fisik atau istirahat yang kurang adekuat.
(c)    Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi.
(d)    Stres emosi yang dapat menurunkan nafsu makan atau absorbsi yang tidak adekuat.
(4)    Penyakit (penyakit kronis dan kelainan kongenital)
Penyakit kronis seperti glomerulonefritis kronik, tuberkulosis paru dan penyakit seliak dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
(5)    Iklim atau cuaca
Iklim dapat mempengaruhi status kesehatan anak. Pada musim penghujan, biasanya akan timbul banjir, yang dapat menimbulkan penyakit menular seperti diare, demam berdarah dan penyakit kulit. Pada musim kemarau, keluarga seringkali sulit mendapatkan air bersih sehingga dapat menimbulkan diare pada anak. Status kesehatan yang buruk seperti ini berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
(6)    Musim
Di negara yang mempunyai 4 musim seperti negara-negara di Eropa, terdapat perbedaan kecepatan tumbuh berat badan dan tinggi badan. Pertambahan tinggi terbesar pada musim semi dan yang paling rendah pada musim gugur, dan yang terkecil pada musim semi.
(7)    Sanitasi lingkungan
Sanitasi lingkungan memiliki peranan penting dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh-kembang.
(8)    Olah raga atau latian fisik
Anak yang senang melakukan olahraga, secara fisik dapat meningkatkan sirkulasi darah yang mengakibatkan peningkatan suplai oksigen ke seluruh tubuh. Olahraga akan meningkatkan aktivitas fisik anak dan menstimulasi perkembangan otot dan pertumbuhan sel. Anak dapat berinteraksi mengenal aturan yang berlaku dan belajar menaatinya untuk tujuan bersama. Disamping itu, dengan berolahraga juga dapat membantu kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan temanya.
(9)    Posisi anak dalam keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak bungsu dapat mempengaruhi pola anak tersebut diatur dan dididik dalam keluarga, yang pada akhirnya juga dapat mempengaruhi tumbuh-kembang anak.
(a)    Anak tunggal
Biasanya yang terjadi pada anak tunggal atau anak semata wayang dalam keluarga adalah sebagai berikut: tidak mempunyai teman bicara dan beraktiviktas, kemampuan intelektual dapat lebih berkembang, pengembangan harga diri positif karena terus–menerus berinteraksi dengan orang dewasa, mendapat stimulasi secara psikososial, anak akan lebih tergantung dan kurang mandiri, perkembangan motorik lambat karena tidak ada stimulasi aktivitas fisik yang dilakukan oleh saudara kandungnya.
(b)    Anak pertama
Posisi sebagai anak pertama (anak sulung) dalam suatu keluarga biasanya: mendapat perhatian penuh karena belum ada saudara yang lain, segala kebutuhanya dipenuhi, orangtua belum memiliki pengalaman dan terlalu melindungi anak, anak akan tumbuh menjadi anak yang perfeksionis dan cenderung pencemas.
(c)    Anak tengah
Ciri dari anak tengah dalam suatu keluarga biasanya: anak berada diantara anak tertua dan anak bungsu (terkecil), orangtua sudah lebih percaya diri dalam merawat anak sehingga anak cenderung agak kurang peduli, anak mempunyai kesempatan untuk belajar komunikasi dan lebih mampu beradaptasi diantara anak terbesar dan terkecil, anak lebih mandiri, anak kurang maksimal dalam pencapaian prestasi dibanding anak pertama.
(d)    Anak bungsu
Posisi sebagai anak bungsu (anak terkecil) dalam suatu keluarga, biasanya anak: mendapat perhatian penuh dari semua anggota keluarga, anak mempunyai kepribadian yang hangat, ramah, dan penuh perhatian pada orang lain.
3)  Faktor internal
Disamping faktor genetik dan lingkungan, faktor internal dalam diri anak berikut ini juga dapat mempengaruhi proses tumbuh-kembang anak, yaitu:
a)  Kecerdasan (IQ)
(1)    Kecerdasan dimiliki anak sejak dilahirkan
(2)    Anak dengan kecerdasan yang rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun telah diberikan stimulus yang tinggi
(3)    Anak dengan kecerdasan tinggi dapat didorong oleh stimulus lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang
b)  Pengaruh hormonal
Terdapat tiga hormon utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu:
(1)    Hormon somatotropin (Growth Hormon) atau hormon pertumbuhan, merupakan hormon yang berpengaruh pada pertumbuhan tinggi badan karena menstimulasi terjadinya poliferasi sel, kartilago dan skeletal. Kelebihan hormon ini dapat menyebabkan gigantisme (pertumbuhan yang besar), sementara itu kekurangan hormon ini menyebabkan dwarfisme (kerdil).
(2)    Hormon tiroid, dimana hormon ini mutlak diperlukan pada tumbuh kembang anak, karena mempunyai fungsi menstimulasi metabolisme fungsi tubuh, yaitu metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Kekurangan hormon ini (disebut “hipotiroidisme”) dapat mengakibatkan gangguan pada kardiovaskuler, metabolisme, otak, mata, dan lain-lain
(3)    Hormon gonadotropin (Hormon Seks), dimana hormon ini terutama mempunyai peranan penting dalam fertilisasi dan reproduksi. Hormon ini menstimulasi pertumbuhan interstisial dari testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen.
(Maryunani, 2010; h. 40-51)
4)  Lingkungan eksternal
Dalam lingkungan eksternal ini banyak sekali yang mempengaruhinya, diantaranya adalah kebudayaan, kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi kepercayaan, adat kebiasaan dan tingkah laku dalam bagaimana orang tua mendidik anaknya. Status sosial ekonomi keluarga juga berpengaruh, orang tua yang ekonomi menengah ke atas dapat dengan mudah menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang berkualitas, sehingga mereka dapat menerima atau mengadopsi cara-cara baru bagaimana cara merawat anak dengan baik. Status nutrisi pengaruhnya juga sangat besar, orang tua dengan ekonomi lemah bahkan tidak mampu memberikan makanan tambahan buat bayinya, sehingga bayi akan kekurangan asupan nutrisi yang akibat selanjutnya daya tahan tubuh akan menurun dan akhirnya bayi/ anak akan jatuh sakit.
5)  Faktor pelayanan kesehatan
Adanya pelayanan kesehatan yang memadai yang ada di sekitar lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang, diharapkan tumbang anak dapat dipantau. Sehingga apabila terdapat sesuatu hal yang sekiranya meragukan atau terdapat keterlambatan dalam pengembanganya, anak dapat segera mendapatkan pelayanan kesehatan dan diberikan solusi pencegahnya.
(Riyadi dan Ratnaningsih, 2012; h. 136-137)
d.  Ciri-ciri tumbuh kembang anak
Menurut dr.Soetjiningsih (2005), tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai ciri-ciri:
a.   Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/ dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Ini berarti bahwa tumbuh kembang sudah terjadi sejak didalam kandungan dan setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh kembang anak dapat dengan mudah diamati.
b.   Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang berlainan diantara organ-organ. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat adalah pada masa janin, masa bayi 0-1 tahun, dan masa pubertas. Sedangkan pertumbuhan organ-organ tubuh mengikuti 4 pola, yaitu pola umum, limfoid, neural dan reproduksi.
c.   Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatanya berbeda antara satu dengan lainya.
d.   Perkembangan erat hubunganya dengan maturasi sistem susunan saraf.
e.   Aktifitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas
f.    Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal. Langkah pertama sebelum berjalan adalah perkembangan menegakan kepala.
g.   Reflek primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.
e.   Tahap Pertumbuhan Dan Perkembangan Fisik
Menurut Marmi dan Kukuh (2012; h. 125), tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur dan berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi, namun setiap anak akan melewati pola tertentu. Tanuwijaya (2003) memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi dua, yaitu masa pranatal dan pascanatal.
a.   Pertumbuhandan perkembangan masa pranatal
Menurut A.Aziz alimul hidayat (2009; h. 21-25), masa pranatal terdiri dari dua fase yaitu fase embrio dan fase fetus, pada fase embrio pertumbuhan dimulai pada 8 minggu pertama dengan terjadi defesiansi yang cepat dari ovum menjadi suatu organisme dan terbentuknya manusia. Pada minggu kedua terjadi pembelahan sel dan terjadi pemisahan jaringan antara entoderm dan ekstoderm, pada minggu ke 3 terbentuk lapisan mesoderm. Pada masa ini sampai umur tujuh minggu belum tampak terjadi gerakan yang menonjol hanya denyut jantung janin sudah mulai terdenyut sejak 4 minggu. Masa fetus terjadi antara minggu ke-12 sampai 40 terjadi peningkatan fungsi organ yaitu bertambah ukuran panjang dan berat badan terutama pertumbuhan dan penambahan jaringan subcutan dan jaringan otot.
b.   Pertumbuhan dan perkembangan masa post natal
1)  Masa neonatus (0-28 hari)
Pertumbuhan dan perkembangan post natal atau dikenal dengan pertumbuhan dan perkembangan setelah lahir ini diawali dengan masa neonatus (0-28 hari) yang merupakan masa terjadi kehidupan yang baru dalam ekstra uteri, dengan terjadi proses adaptasi semua sistem organ tubuh, proses adaptasi dari organ tersebut dimulai dan aktivitas pernapasan yang disertai pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 kali per menit, penyesuaian denyut jantung antara 120-160 kali per menit, dengan ukuran jantung lebih besar apabila dibandingkan dengan rongga dada, kemudian terjadi aktivitas (pergerakan) bayi yang mulai meningkat untuk memenuhi kebutuhan gizi seperti menangis, memutar-mutar kepala, dan menghisap (rooting reflex) dan menelan. Perubahan selanjutnya sudah dimulai proses pengeluran tinja yang terjadi dalam waktu 24 jam yang terdapat mekonium. Hal tersebut akan dilanjutkan proses defekasi seperti dari proses ekskresi dari apa yang dimakan (ASI) frekuensi untuk defekasi tersebut dapat berkisar antara 3-5 minggu, akan tetapi juga banyak dijumpai pada bayi yang mengalami konstipasi pada bayi dengan PASI.
Perubahan pada fungsi organ yang lain seperti ginjal belum sempurna. Urine masih mengandung sedikit protein dan pada minggu pertama akan dijumpai urine warna merah muda karna banyak mengandung senyawa urat. Kemudian kadar hemoglobin darah tepi pada neonatus berkisar antara 17-19 g/dl, kadar hematokrit saat lahir adalah 52%, terjadi peningkatan kadar leukosit sekitar 25.000-30.000 /ul dan setelah umur satu minggu akan terjadi penurunan hingga kurang dari 14.000 /ul. Keadaan fungsi hatipun masih relatif imatur dalam memproduksi faktor pembekuan sebab belum terbentuknya flora usus yang akan berperan dalam absorbsi vitamin K, kemudian adanya kekebalan bayi oleh karena adanya imunoglobulin.
Pada masa neonatus perkembangan motorik kasar dapat diawali tanda gerakan seimbang pada tubuh, mulai mengangkat kepala, kemudian pada motorik halus dimulainya tanda-tanda kemampuan untuk mampu mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons terhadap gerkan jari atau tangan. Pada perkembangan bahasa ditunjukin adanya kemampuan bersuara (menangis) dan bereaksi terhadap suara atau bel dan pada perkembangan adaptasi sosial ditunjukan adanya tanda-tanda tersenyum dan mulai menatap muka untuk mengenali seseorang.


2)  Masa bayi (28 hari – 1 tahun)
Pada masa bayi hingga satu tahun dalam pertumbuhan dan perkembangan dapat dikelompokan menjadi tiga tahap, tahap pertama adalah 1-4 bulan, tahap kedua 4-8 buan, tahap ketiga adalah 8-12 bulan.
a)  Umur 1-4 bulan
Perubahan dalam pertumbuhan diawali dengan perubahan berat badan pada usia ini, bila gizi anak baik maka perkiraan berat badan akan mencapai 700-1000 gram/ bulan sedangkan pertumbuhan tinggi badan agak stabil tidak mengalami kecepatan dalam pertumbuhan tinggi badan, kemudian dalam perkembanganya dapat dilihat dari perkembangan motorik kasar, halus, bahasa dan adaptasi sosial.
Perkembangan motorik kasar memiliki kemampuan mengangkat kepala saat tengkurap. Mencoba duduk  sebentar dengan tangan ditopang, dapat duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri, kontrol kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring terlentang, berguling dari telentang ke miring, posisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan berusaha untuk merangkak.
Perkembangan motorik halus daat melakukan usaha yang bertujuan untuk memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke sisi, mencoba memegang benda kedalam mulut, memegang benda tetapi terlepas, memperhatikan tangan dan kaki, memegang benda dengan kedua tangan, menahan benda di tangan walaupun hanya sebentar.
Pada perkembangan bahasa ditandai dengan kemampuan bersuara dan tersenyum, dapat berbunyi huruf hidup, berceloteh, mulai mampu mengucapkan kata ooh/ ahh, tertawa dan berteriak, mengoceh spontan atau bereaksi atau mengoceh.
Perkembangan adaptasi sosial mulai untuk mengamati tanganya, tersenyum spontan dan membalas senyum bila diajak tersenyum, mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak, tersenyum pada wajah manusia, waktu tidur dalam sehari lebih sedikit dari pada waktu terjaga, membentuk siklus tidur bangun, menangis menjadi sesuatu yang berbeda, membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak dikenal, senang menatap wajah-wajah yang dikenalnya, diam saja apabila ada orang asing.
b)  Umur 4-8 bulan
Pada umur ini pertumbuhan berat badan dapat terjadi 2 kali berat badan pada waktu lahir dan rata-rata kenaikan 500-600 gram/ bulan apabila mendapatkan gizi yang baik. Sedangkan pada tinggi badan tidak mengalami kecepatan dalam pertumbuhan dan terjadi kestabilan berdasarkan pertumbuhan umur.
Pada perkembangan motorik kasar awal bulan ini terjadi perubahan dalam aktivitas seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua tanganya dan pada bulan keempat sudah mampu memalingkan ke kanan dan ke kiri dan sudah mulai terjadi kemampuan dalam duduk dengan kepala tegak, sudah mampu membalik badan, bangkit dengan kepala tegak, menumpu beban pada kaki dan dada terangkat dan menumpu pada lengan, berayun ke depan dan ke belakang, berguling dari terlentang ke tengkurap dan dapat duduk dengan bantuan selama waktu singkat.
Pada perkembangan motorik halus sudah mulai mengamati benda, mulai menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengeksplorasi benda yang sedang dipegang, mengambil objek dengan tangan tertangkup, mampu menahan kedua benda dikedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan, memudahkan objek dari satu tangan ke tangan lain.
Pada perkembangan bahasa dapat menirukan bunyi atau kata-kata, menoleh ke arah sumber bunyi, tertawa, menjerit, menggunakan vokalisasi semakin banyak, menggunakan kata yang terdiri dari dua suku kata dan dapat membuat bunyi vokal yang bersamaan seperti ba-ba.
Perkembangan adaptasi sosial merasa terpaksa jika ada orang asing, mulai bermain dengan mainan, takut akan kehadiran orang asing, mudah frustasi dan memukul-mukul lengan dan kaki jika sedang kesal.
c)  Umur 8-12 bulan
Pada usia ini pertumbuhan berat badan dapat mencapai 3 kali berat badan lahir apabila mencapai usia 1 tahun dan pada pertambahan berat badan per bulan sekitar 350-450 gram pada usia 7-9 bulan dan 250-350 gram/ bulan pada usia 10-12 bulan apabila dalam pemenuhan gizi yang baik dan pertumbuhan tinggi badan sekitar 1,5 kali tinggi badan pada saat lahir, pada usia satu tahun penambahan tinggi badan tersebut masih stabil dan diperkirakan tinggi badan akan mencapai 75 cm.
Secara umum perkembangan bayi pada tahun pertama adalah terjadi peningkatan beberapa organ fisik/ biologis seperti ukuran panjang badan pada tahun pertama penambahan kurang lebih (25-30 cm), peningkatan jaringan subkutan, perubahan pada fontanel anterior menutup pada usia 9-18 bulan perubahan pada lingkar kepala dan lingkar dada, dimana lingkar kepala sama besar dan pada usia satu tahun terjadi perubahan, pada akhir tahun pertama terjadi perubahan berat otak anak menjadi 25% berat otak orang dewasa, pertumbuhan gigi dimulai dari gigi susu pada umur 5-9 bulan.
Pada perkembangan motorik kasar dapat terjadi kemampuan diawali dengan duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit terus berdiri, berdiri 2 detik dan berdiri sendiri. Kemudian pada motorik halus mencari atau meraih benda kecil, bila diberi kubus mampu memindahkanya, mampu mengambilnya dan mampu memegang dengan jari dan ibu jari, membenturkanya dan mampu menaruh benda atau kubus ketempatnya.
Pada perkembangan bahasa mulai mampu mengatakan papa mama yang belum spesifik, mengoceh hingga menggatakan dengan spesifik, dapat mengucapkan 1-2 kata, sedangkan perkembangan adaptasi sosial dimulai kemampuan untuk bertepuk tangan, menyatakan keinginan, sudah mulai minum dengan cangkir, menirukan kegiatan orang, main-main bola atau lainya dengan orang.
d)  Masa anak 1-2 tahun
Pertumbuhan dan perkembangan pada tahun kedua pada anak akan mengalami beberapa perlambatan daam pertumbuhan fisik, dimana pada tahun kedua anak akan mengalami kenaikan berat badan sekitar 1,5-2,5 kg dan panjang badan 6-10 cm, kemudian pertumbuhan otak juga akan mengalami perlambatan yaitu kenaikan lingkar kepala hanya 2 cm, untuk pertumbuhan gigi terdapat tambahan 8 buah gigi susu termasuk gigi geraham pertama, dan gigi taring sehingga seluruhnya berjumlah 14-16 buah.
Dalam perkembangan motorik kasar anak sudah mampu melangkah dan berjalan dengan tegak, pada sekitar umur 18 bulan anak mampu menaiki tangga dengan cara satu tangan dipegang dan pada akhir tahun kedua sudah mampu berlari-lari kecil, menendang bola dan mulai mencoba melompat. Perkembangan motorik halus mampu mencoba menyusun atau membuat menara pada kubus. Kemampuan bahasa pada anak sudah mulai ditunjukan dengan anak mampu memiliki sepuluh perbendaharaan kata, kemampuan meniru dan mengenal serta responsif terhadap orang lain sangat tinggi, mampu menunjukan dua gambar, mampu mengombinasikan kata-kata, mulai mampu menunjukan lambaian anggota badan. Pada perkembangan adaptasi sosial mulai membantu kegiatan di rumah, menyuapi boneka, mulai menggosok gigi serta mencoba memakai baju.
e)  Masa prasekolah
Pada pertumbuhan masa pra sekolah pada anak pertumbuhan fisik khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunya adalah 2 kg, kelihatan kurus akan tetapi aktivitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain. Pada pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75-7,5 cm setiap tahunya.
Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Proses eliminasi pada anak sudah menunjukan proses kemandirian dan masa ini adalah masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukan perkembangan dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dan tampak sekali kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang tuanya. Sedangkan perkembangan psikososial pada anak sudah menunjukan adanya rasa inisiatif, konsep diri yang positif serta mampu mengidentifikasi identitas dirinya.
Pada perkembangan motorik kasar, diawali dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit ke jari kaki, menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan.
Perkembangan motorik halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang, dan menggambar orang, melepas objek dengan jari lurus, mampu menjepit benda. Melambaikan tangan, menggunakan tanganya untuk bermain, menempatkan objek ke dalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, manggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, membuat coretan diatas kertas.
Pada perkembangan bahasa diawali mampu menyebutkan hingga empat gambar. Menyebutkan satu hingga dua warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata, mengerti empat kata depan, mengerti beberapa kata sifat dan sebagainya, menggunakan bunyi kata, memahami arti larangan, berespons terhadap panggilan dan orang-orang anggota keluarga dekat.
Perkembangan adaptasi sosial dapat bermain dengan permainan sederhana. Menangis jika dimarahi, membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan peningkatan kecemasan terhadap perpisahan, mengenali anggota keluarga.
f.    Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak
Menurut Marmi (2012; h.114), proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1)  Tumbuh kembang adalah proses continue dimulai sejak konsepsi sampai maturitas, atau dewasa.
Setelah kelahiran, tumbang anak dengan mudah diamati. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.
2)  Dalam periode tersebut terdapat adanya masa percepatan atau perlambatan.
Tiga periode pertumbuhan percepatan:
a)  Masa janin
b)  Masa bayi (0-1 tahun)
c)  Masa pubertas
3)  Pola perkembangan dapat diramalkan
Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatanya berbeda antara anak satu dengan anak yang lainya. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan. Contoh: anak akan belajar duduk sebelum belajar berjalan.
a)  Perkembangan erat hubunganya dengan maturitas system susunan saraf
Contoh: tidak ada latihan yang dapat menyebabkan anak dapat berjalan sampai saraf siap untuk itu.
b)  Aktifitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas
Contoh: bayi akan menggerakan seluruh tubuhnya bila melihat sesuatu yang menarik.
c)  Arah perkembangan adalah Cepalokaudal
Contoh: menggerakan kepala dulu, mengangkat dada, menggerakan ekstremitas bagian bawah.
d)  Reflex primitive seperti reflex menggenggam dan melangkah akan menghilang sebelum gerakan volunteer tercapai.
Contoh: melangkah atau berjalan akan menghilang pada usia 5-6 tahun.
g.  Indikator pemantauan pertumbuhan Neonatus, Bayi dan Anak
Menurut Wafi Nur Muslihatun (2010) Secara garis besar, tumbuh kembang dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu tumbuh kembang fisik, intelektual, dan ditentukan oleh faktor potensi genetic heredo konstitusional dan peran lingkungan.
Suatu kelainan bisa terjadi jika ada faktor genetik dan atau karena faktor lingkungan yang tidak mampu mencukupi kemampuan dasar tumbuh kembang anak. Peran lingkungan, juga menjadi faktor penting untuk mencukupi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak meliputi kebutuhan bio-psikososial yang terdiri dari kebutuhan biomedis (asuh) dan kebutuhan psikososial (asih dan asah). Lingkungan ini terdiri dari lingkungan mikro (ibu atau pengganti ibu), lingkungan mini (ayah, kakak, adik, status sosial ekonomi), lingkungan meso (hal-hal di luar rumah), dan lingkungan makro.
Deteksi tumbuh-kembang ini, sudah bisa dilakukan sejak anak memasuki ruang pemeriksaan bersama orangtuanya melalui observasi atau pengamatan dengan memperhatikan mulai penampilan wajah, bentuk kepala, tinggi badan hingga interaksi dengan lingkunganya. Namun demikian deteksi dini adanya gangguan sebaiknya ditempuh melalui beberapa hal, antara lain melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan skrining perkembangan yang sistematis agar lebih objektif.
Dalam deteksi dini anamnesis ini, yang dipertanyakan adalah faktor resiko pada balita (intrinsic, genetic heredokonstitusional), faktor risiko pada ibu (umur, tinggi badan, jumlah anak, jarak kehamilan, riwayat pernikahan, merokok, pernah mengonsumsi alkohol), faktor risiko lingkungan mini (ayah, saudara kandung dan anggota dan anggota lain serumah), lingkungan meso (tetangga, dan teman bermain) dan lingkungan makro.
Deteksi dini tumbuh kembang anak juga ditempuh melalui pemeriksaan fisik rutin. Beberapa hal yang diperiksa pada anak yakni tinggi badan, berat badan dan ukuran kepala. Kelainan pertumbuhan anak yang dijumpai adalah perawatan pendek (short stature), perawakan tinggi (tall stature), yang dikalsifikasikan sebagai variasi normal dan patologis, pertumbuhan tersebut diperlukan suatu kiat dalam pengukuran antropometri sebagai salah satu cara penilaianya.
1.   Pengukuran Antropometrik
Pengukuran antropometri merupakan bagian dari langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak. Berikut ini langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak:
1.   Pengukuran antropometri, meliputi:
1)  Berat badan
Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting, dipakai setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan/ penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain; tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lainya. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran obyektif dan dapat diulangi, dapat digunakan timbangan apa saja yang relatif murah, mudah, dan tidak memerlukan banyak waktu. Kerugianya, indikator berat badan ini tidak sensitif terhadap proporsi tubuh, misalnya; pendek gemuk atau tinggi kurus.
Penilaian berat badan berdasarkan umur menurut WHO dengan buku NCHS dengan cara persentil dengan penilaian sebagai berikut: percentil 50-3 dikatakan normal dan kurang atau sama dengan tiga masuk kategori malnutrisi (abnormal).
2)  Tinggi badan
Pengukuran ini merupakan bagian dari pengukuran antropometrik yang digunakan untuk menilai status perbaikan gizi, disamping faktor genetik. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Penilaian tinggi badan berdasarkan umur menurut WHO dengan baku NCHS dengan cara presentasi dari median dengan penilaian sebagai berikut: lebih dari atau sama dengan 90% adalah normal dan kurang dari 90% malnutrisi kronis (abnormal).
3)  Lingkar kepala
Pengukuran lingkar kepala ini dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan otak, penilaian ini dapat dilihat apabila pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) maka menunjukan adanya retardasi mental, sebaliknya apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) akibat penyumbatan pada aliran cairan cerebrospinalis. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan kurva lingkar kepala.
4)  Lingkar Lengan Atas
Lingkaran Lengan Atas (LLA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan. LLA dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi/ tumbuh kembang pada kelompok umur prasekolah. Laju tumbuh lambat, dari 11 cm pada saat lahir menjadi 16 cm pada umur satu tahun. Selanjutnya tidak dapat berubah selama 1-3 tahun. Keuntungan penggunaan LLA ini adalah alatnya murah, bisa dibuat sendiri, mudah dibawa, cepat penggunaanya, dan dapat digunakan oleh tenaga yang tidak terdidik. Sedangkan kerugianya adalah LLA hanya untuk identifikasi anak dengan gangguan gizi/ pertumbuhan yang berat, sukar menentukan pertengahan LLA tanpa menekan jaringan, dan hanya untuk umur 1-3 tahun, walaupun ada yang mengatakan dapat untuk anak mulai umur 6 bulan s/d 5 / 6 tahun.
5)  Tebal kulit
Tebalnya lipatan kulit pada daerah triseps dan subskapular merupakan refleksi tumbuh kembang jaringan lemak dibawah kulit, yang mencerminkan kecukupan energi.
Tebal kulit di ukur dengan alat skinfold caliper pada kulit lengan, subscapula dan daerah pinggul penting untuk menilai kegemukan. Memerlukan latihan karena sukar melakukanya dan alatnyapun mahal (harpenden caliper). Penggunaan dan interpretasinya yang terlebih penting.
Gambar 1 alat pengukur tebal kulit
2.   Penggunaan kurva pertumbuhan anak (KMS, NCHS)
a)  NCHS (National Center For Health Statistic)
Penggunaan kurva pertumbuhan (growth chart) atau tabel NCHS sebagai baku secara teratur merupakan alat yang paling tepat untuk menilai status gizi pada pertumbuhan anak. Perlu dipahami pengertian persentil dan standar devisiasi, sebagai patokan sebelum menggunakanya di lapangan.
Dalam pemantauan pertumbuhan anak pada plot berat atau tinggi badan anak pada kurva NCHS perlu diikuti secara berkala untuk melihat alur pertumbuhanya menyimpang atau tidak. Pemantauan bukan hanya pada posisi titik plot itu saja, akan tetapi juga hubungan titik-titik tersebut selama kurun waktu tertentu.
 b)  KMS (Kartu Menuju Sehat) sebagai Home Based Record
Di indonesia terdapat kartu menuju sehat (KMS) yang dipakai baik untuk penyuluhan maupun sebagai alat monitor pertumbuhan dan gizi di masyarakat. KMS di Indonesia merupakan modifikasi WHO-NCHS, yaitu berat badan terhadap umur anak balita, dilengkapi dengan gambar perkembangan motorik kasar, halus dan berbahasa. Tujuan KMS adalah sebagai alat bantu (instrumen) bagi ibu atau orang tua dan petugas untuk memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak balita, menentukan tindakan-tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.
3.   Penilaian dan klasifikasi status gizi
Sistim penilaian gizi dengan pencatatan dalam suatu formulir untuk anak sakit oleh Behrman & Kliegman dalam buku Essensials Nelson’s Texbook of Pediatrics. Selain data-data tentang masalah makanan dan antropometri, keadaan klinins anak juga dipaparkan secara rinci. Instrumen semacam ini kiranya  cukup memadai untuk dipergunakan di klinik dilengkapi dengan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lengkap.
4.   Data-data perkembangan dan maturasi pada penyimpangan tumbuh kembang
Milestones perkembangan merupakan suatu parameter dalam manajemen tumbuh kembang yang tidak terpisahkan dari pemeriksaan antropometri. Akan tetapi hal ini masih harus dibudayakan secara bertahap mengingat adanya faktor waktu dan beban kerja di unit pelayanan kesehatan anak di masyarakat dan klinik-klinik.
5.   Memonitor pertumbuhan anak sejak bayi
Pemantauan status gizi bayi secara berkala setiap bulan dengan cara menimbang berat badan bayi dan mengukur panjang badanya. Idealnya, berat badan bayi berada digaris normal pada grafik pertumbuhan. Ini artinya, pertambahan berat badanya seimbang dengan pertambahan tinggi badan dan usia. Pemantauan pertumbuhan anak sejak lahir sangat penting. Selain dapat menentukan pola normal pertumbuhan pada anak, juga dapat menentukan permasalahan dan faktor yang mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan pada anak sejak dini. Bila diketahui gangguan pertumbuhan sejak dini maka pencegahan dan penanganan gangguan pertumbuhan tersebut dapat diatasi sejak dini.
a)  Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan
Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, apakah anak termasuk normal, kurus, kurus sekali, atau gemuk. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi dini tumbuh kembang balita.
(1)    Pengukuran berat badan
(a)    Menggunakan timbangan bayi
(b)    Menggunakan timbangan injak pada anak
(2)    Pengukuran panjang badan (PB)/ tinggi badan (TB). Untuk pengukuran panjang badan atau tinggi badan, petugas harus memiliki ketrampilan mengukur panjang badan dengan posisi berbaring serta mengukur tinggi badan dengan posisi berdiri.
(3)    Pengukuran tabel BB/TB (Direktorat Gizi Masyarakat, 2002).
(a)    Ukur TB dan BB
(b)    Lihat kolom panjang/ tinggi badan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran
(c)    Pilih kolom berat badan untuk laki-laki (kiri) atau perempuan (kanan) sesuai jenis kelamin anak. Tentukan angka berat badan yang terdekat dengan berat badan anak.
(d)    Dari angka BB tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui angka standar deviasi (SD)
b)  Pengukuran lingkar kepala anak
Tujuan pengukuran lingkar kepala adalah untuk mengetahui lingkar kepala anak berada dalam batas normal atau diluar batas normal. Jadwal pengukuran lingkar kepala disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak berusia 0-11 bulan pengukuran dilakukan setiap 3 bulan, dan untuk anak berusia 12-72 bulan pengukuran dilakukan setiap 6 bulan.
(1)    Cara mengukur lingkar kepala
(a)    Lingkarkan pengukur kepala melewati dahi, menutupi alis mata, di atas kedua telinga, dan bagian belakang kepala menonjol, lalu tarik agak kencang.
(b)    Baca angka pada pertemuan dengan angka 0
(c)    Tanyakan tanggal lahir bayi/ anak, hitung usia bayi/ anak
(d)    Hasil pengukuran dihitung pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin anak
(e)    Buat garis yang menghubungkan antara pengukuran lalu dengan sekarang
(2)    Interpretasi
(a)    Jika ukuran LK didalam jalur hijau, maka LK anak dikatakan normal
(b)    Jika ukuran LK diluar jalur hijau, maka LK anak dikatakan tidak normal (makrosefal diatas jalur dan mikrosefal dibawah jalur hijau). Segera rujuk ke RS jika menemui anak dengan LK di luar jalur hijau.
c)  Stimulasi perkembangan balita
(1)    Pengertian
Stimulasi adalah perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan luar anak (Mursintowarti, 2002; h. 45).
(2)    Prinsip
Dalam melakukan stimulasi, harus menggunakan prinsip sebagai berikut:
(a)    Sebagai ungkapan rasa cinta dan sayang, bermain bersama anak sambil menikmati kebahagiaan bersama anak
(b)    Bertahap dan berkelanjutan, serta mencakup 4 sidang kemampuan perkembangan (motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal social)
(c)    Dimulai dari tahapan perkembangan yang telah dicapai anak
(d)    Dilakukan dengan wajar, tanpa paksaan, hukuman atau bentakan
(e)    Anak selalu diberi pujian
(f)     Alat bantu stimulasi (jika perlu) dicari yang sederhana, tidak berbahaya dan mudah didapat
(g)    Suasana dibuat menyenangkan dan bervariasi
(3)    Fungsi bermain sebagai saran stimulasi tumbuh dan kembang pada anak
(a)    Perkembangan sensori motor
Perkembangan sensori motor ini didukung oleh stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.
Stimulasi visual merupakan stimulasi awal yang penting pada tahap permulaan perkembangan anak. Anak akan meningkatkan perhatianya pada lingkungan sekitar melalui penglihatanya.
Stimulasi pendengaran (stimulus taktil) sangat penting untuk perkembangan bahasanya.
Memberikan sentuhan (stimulasi taktil) yang mencukupi pada anak berarti memberikan kasih sayang yang diperlukan anak. Stimulus ini akan memberikan rasa aman dan percaya diri pada anak sehingga anak akan lebih responsif dan perkembangan.
(b)    Perkembangan kognitif (intelektual)
Anak belajar mengenal warna, bentuk atau ukuran, tekstur dari berbagai macam objek, angka dan benda. Anak belajar untuk merangkai kata, berpikir abstrak dan memahami hubungan ruang seperti naik, turun, dibawah dan terbuka.
(c)    Sosialisasi
Sejak awal masa anak-anak, bayi telah menunjukan ketertarikan dan kesenangan terhadap orang lain, terutama terhadap ibu.
(d)    Kreativitas
Tidak ada situasi yang lebih menguntungkan atau menyenangkan untuk berkreasi dari pada bermain. Anak-anak dapat bereksperimen dan mencoba ide-idenya.
(e)    Kesadaran diri
Dengan aktivitas bermain, anak akan menyadari bahwa dirinya berbeda dengan yang lain dan memahami dirinya sendiri. Anak belajar untuk memahami kelemahan dan kemampuanya dibandingkan dengan anak yang lain. Anak juga mulai melepaskan diri dari orang tuanya.
(f)  Nilai-nilai moral
Anak mulai belajartentang perilaku yang benar dan salah dari lingkungan rumah maupun sekolah. Dengan mengenal lingkungan anak akan berinteraksi yang akan memberikan makna pada latihan moral. Mereka mulai belajar menaati aturan.
(g) Nilai terapeutik
Bermain dapat mengurangi tekanan atau stress dari lingkungan, anak dapat mengespresikan emosi dan ketidakpuasan atau situasi serta rasa tahunya yang tidak dapat diekspresikan di dunia nyata.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar